[lagi-lagi] hujan

lalu, setelah kita bisa bicara banyak
kita bicara apa saja. gunung, bintang, dan hujan. ah kau tahu, aku mulai bosan bicara hujan.
rimanya selalu seperti itu, jika bukan harapan, pasti kesedihan.
atau, kehilangan.
aku ingin bicara tentang langit biru.
agar rimanya bertemu dengan semua rindu milikku.
aku ingin bicara tentang matahari.
agar nadanya bisa kita masukkan hingga ke ujung-ujung hati.
kau bilang, kau juga selalu kalah oleh hujan.
hujan selau membuat perjalanan terasa sangat panjang.
dan, melelahkan.
tetapi, hujan juga berima sama dengan masa depan.
dan kau bilang itu menyenangkan karena masa depanmu adalah bersamaku
lalu, masihkah kusalahkan hujan, jika diksiku tiba-tiba menguap dan hilang?
sumber gambar: di sini
tak apa
perempuan itu setengah berlari. buru-buru mengusap peluh, lalu bergegas lagi
kau mau tahu apa yang dia kejar?
mimpi kecil. hanya mimpi kecil
dengan harapan yang banyak. dan, doa-doa setiap malam yang penuh sesak
mimpi kecil.
yang tak bosan ia rajut di setiap musim. panas, hujan, kering, ataupun dingin
ia ingin mimpi kecilnya menjelma
meski lamat-lamat, ia selalu dibisiki hal yang sama setiap hari
“tak semua mimpi menjelma sempurna.”
tapi toh, ia tetap tak bosan. dikumpulkannya lagi banyak harapan
dirapikannya doa-doa dalam tiap perjalanan
ia yakin, sungguh yakin. jika ia sungguh-sungguh meminta
tuhan pun akan senang mendengarnya
mimpi kecil. hanya mimpi kecil
--jika tak sempurna pun tak apa.
begitu bisiknya di setiap hela
sumber gambar: di sini
agustus--lagi

agustus lagi
bahkan seperti sulit mengejanya. jangankan membuat kisah.
memulai prolog saja sudah susah.
padahal ini agustus.
kau--aku, dan agustus
seharusnya ada banyak perjalanan, bukan?
seharusnya ada banyak jejak-jejak terekam.
kitakah itu yang sedang berlari?
mengejar mimpi yang tak sama lagi,
atau masing-masing sibuk menjauhkan hati?
ah, betapa kangennya aku padamu--
padamu dan agustus kita dulu
saat bercakap-cakap tak membuat kita berhenti di satu titik. kemudian, gagu.
ruang-ruang penuh sibuk dan hari-hari semakin beku.
kau ingat, pernah satu kali agustus, aku menulis tentang kehilangan
--kehilanganmu di suatu hari--
dan agustus kali ini,
ketakutan itu menjelma cerita
dialognya tumbuh memberi jarak kau dan aku--kita.
tawamu hilang. lenyap di antara agustus-agustus lama.
aku bahkan lupa bagaimana bunyinya.
ceriamu menguap. hilang di antara mimpi yang melukai doa-doa.
aku bahkan tak tahu harus menyalahkan siapa.
agustus lagi
ah, akukah yang terlalu sibuk menjauhkan hati?
atau kau yang sudah tak ingin bersama mengejar mimpi?
"Tuhan, semoga masih akan banyak agustus-agustusmu
hingga kami bisa merevisi kisah, dan sempat menuliskan epilog bersama-sama. amin."
sumber gambar: di sini
Malam datang terlalu cepat, atau waktu semakin bergegas?
diburu hidup yang terburu-buru
apa yang sebenarnya kita tunggu?
"ah, sudah hampir juni (lagi) ya?"
berderap-derap mengejar mimpi

kemarin, saya menemani iwied talkshow pertama-nya di radio. untuk novel pertamanya juga. tentu saja, talkshow tak berjalan sesempurna yang Anda kira (hehe). seperti biasa, iwied demam panggung. (ya, iyalah, nggak ngomong di radio aja iwied salting, hehehe, siapa bisa duga, di luaran sana siapa yang lagi denger kan? terbebani pikiran itulah, seluruh kata-kata yang sudah dilatih semalaman buyar tak membentuk kalimat yang oke.) maka, ya begitulah iwied pun grogi di hampir 45 menit awal acara (acaranya cuma satu jam :P). Saat Iwied sudah mampu menguasai massa dan ngejawab-jawab pertanyaan lewat SMS dengan pede, eh acara harus berakhir. sepanjang pulang, iwied menarik-narik lengan baju saya “git, gw udah gak grogi… git gw udah gak grogi nih….”
saat iwied sedang grogi, tentu saja saya ada di sebelahnya. mencoba tak bicara mengingatkan, karena saya tahu pasti jika saya mengoreksi, iwied akan semakin bertambah grogi. saat jeda, tiba-tiba saja saya ingin memeluknya. saya ingin bilang, saya bangga sekali padanya. saya ingat perjalanan kami. hari-hari yang kami lalui sejak pertemuan pertama di balairung dulu. drama demi drama.
saya ingat saat kali pertama dia menginap di kamar saya. malam itu, kami tak tidur. saya bercerita banyak (kapan sih saya tak bercerita banyak?). tentang menulis. tentang buku. tentang keluarga saya. juga tentang mimpi-mimpi. (sejak malam ini, topik mimpi adalah topik favorit kami :P). saya juga ingat saat saya menunjukkan tulisan saya yang dimuat di sebuah majalah, iwied menatap saya dan bilang “Gita, gw juga mau jadi penulis.”
dan, sembilan tahun kemudian, inilah dia. sahabat saya. beberapa cerpennya telah dimuat di harian nasional, majalah. novel pertamanya (meski bertema remaja) telah terbit. setidaknya, dia sudah cukup pantas menyandang status “penulis”. saya bangga padanya. sungguh.
saya tahu, perjalanan yang ia tempuh tak gampang. iwied membuktikan kalau dia bisa. saya bangga padanya, sudahkah tadi saya bilang? itu sungguh. ah, saya harus pula mengejar. ayo, semangat.
mimpi-mimpi di depan sana, nantikanlah kedatangan kami :)
sumber gambar: di sini
berjalan
ternyata salah.
saya pikir, orang-orang yang saya sayang—yang paling penting di dunia ini—tahu bahwa mereka saya sayang. ternya tidak. saya salah.
atau mungkin, saatnya introspeksi.melihat jauh-jauh lagi ke diri sendiri. oh, ya. saya memang terlalu banyak melarang. entah sejak kapan, saya merasa bertanggung jawab. mungkin, sejak kami jauh dari rumah. tapi, saya tak pernah menganggap itu sebagai beban. saya hanya merasa bertanggung jawab. mungkin, karena saya tidak ingin mereka mengalami perasaan-perasaan seperti saya.
entah mengapa saya selalu mencampuri urusannya. mungkin, karena saya ingin dia tahu, dia tidak sendiri. sayang, ternyata saya salah.
saya hanya berusa menjaga. tidak berniat untuk menyuruhnya meniru saya atau mengimitasi. ah, apalah saya ini. saya sadar benar hal itu. dulu, kami juga tidak pernah terlalu akrab. saya masih ingat masa-masa kecil. masa yang saya hapus dari ingatan.
saya bukan orang munafik. dan, saya tidak mau jadi orang munafik. saya hanya ingin yang terbaik untuk orang-orang yang saya sayang. apa pun akan saya lakukan. apa pun akan saya berikan. tapi, jika itu ternyata jadi tidak menyenangkan, saya akan berhenti untuk melarang. sungguh. saya akan diam. mungkin, suatu hari hanya melihat saja. dari jauh. jauuuh sekali.
tenang. saya tidak akan lagi mengganggu hidup kalian.
sumber gambar: di sini
terjebak hujan
dan, sering kali datang di saat-saat salah
